Ketika pertama terlahir ke dunia pada 20 Desember 1981 dengan hari dan pasaran weton menurut orang Jawa berjumlah 14, kedua orang tuaku memberi nama Zaenal Fanani, yang menurut bahasa berarti Perhiasan sebuah kesenian/ketrampilan. Aku terlahir di Bumi Santri Kediri, salah satu kota santri di Jawa Timur. Kota ini dahulu merupakan sebuah kota yang tak terlepas dari sejarah Bangsa Indonesia, yaitu sebuah kota perdagangan dari sebuah Kerajaan Kediri, dengan salah satu rajanya yaitu Raja Jayabaya, raja yang terkenal dengan sebuah kitab ramalan sejarah yaitu Jangka Jayabaya. Sebagai salah satu kota santri di kota ini banyak terdapat pondok pesantren dengan salah satunya adalah Pondok Pesantren Lirboyo yang merupakan salah satu dari pondok pesantren yang telah melahirkan banyak sekali ulama dan Kyai Khos, selain dari pondok pesantren Langitan, Tuban, Tebuireng, Jombang dan Asembagus, Situbondo.
Terlahir dari sebuah keluarga sederhana di lingkungan pesantren dari kalangan Nahdlatul Ulama yang sangat taat beragama. Aku dididik dengan kehidupan Islam sejak kecil dan mulai masuk pendidikan pesantren di Pondok Pesantren An-Nuur dan bergelut dengan Kitab Kuning dari umur 8 tahun sampai dengan 21 tahun.
Aku suka dengan sebuah petualangan, tantangan dan pemikiran baru dalam kehidupan, di kalangan seorang santri yang sangat teguh memegang aturan pesantren, mungkin aku termasuk dalam Santri mBeling, yaitu seorang santri yang taat beragama, tetapi juga dengan " kenakalan-kenakalan " pemikiran dan tingkah laku.
Satu hal yang pasti, Islam tidak mengenal namanya KEKERASAN karena Rosululloh tidak pernah sekalipun mengajarkan Islam dengan kekerasan tetapi dengan kesempurnaan Akhlak yang Mulia.
Sebagai seorang Satrio Loring Pasar ( meminjam salah satu nama dari Panembahan Senopati Danang Sutawijaya ), karena aku tinggal di sebelah utara ( loring ) dari Pasar Banyakan, salah satu pasar yang sangat ramai di Kota Kediri yang terkenal dengan pasar buah.
Aku mengenal pendidikan formal pada usia 7 tahun di Madarasah Ibtidaiyyah di salah satu desa dikota Kediri. Menyelesaikan pendidikan setingkat dengan Sekolah Dasar dalam waktu 6 tahun.
Kemudian meneruskan di sebuah sekolah menengah pertama selama 3 tahun yang selanjutnya dilanjutkan di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Kota Kediri.
Setelah tamat dari SMK, aku mencoba dengan sebuah pengalaman berpetualangan kemanapun suara hati ini melangkah, dan hal itu aku lalui selama 2 tahun.
Tahun 2002 aku mencoba untuk merasakan pengalaman baru di Kota Metropolitan dengan meneruskan pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi kedinasan swasta di kota Tangerang, yaitu di Politeknik Gajah Tunggal Jurusan Teknik Mesin selama 3 tahun.
Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut pada 2005, aku menjalani Ikatan Dinas selama 5 tahun di PT IRC INOAC INDONESIA salah satu member of Gajah Tunggal Group.
Tahun 2008 aku menambah wawasan, pendidikan, pemikiran, paradigma dan petualangan baru dengan melanjutkan studi di Universitas Indonesia Jurusan Teknik Industri Program Ekstensi sampai saat ini.
Inilah sedikit goresan cerita dari sebuah nama zaenal fanani.
Minggu, 13 September 2009
JIHAD SESUNGGUHNYA
BAHAYA KEMISKINAN
Dalam riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW berpesan, "Kemiskinan, kebodohan, dan penyakit, merupakan musuh Islam. Ketiganya dapat menggoyah sendi kehidupan, menghancurkan ketentraman, menghalangi ukhuwah, serta meruntuhkan kemuliaan dan kejayaan bangsa."
Wasiat itu, maknanya dalam. Kemiskinan, tak hanya mengancam individual, tapi akan melibas kehidupan masyarakat. Baik memporak-porandakan segi akidah-iman, akhlak-moral, maupun merusak cara bersikap dan berpikir.
Islam sangat menentang kemiskinan. Namun Islam, menuntun umatnya agar bisa merasai makna miskin. Puasa Ramadan misalnya, mengingatkan agar tubuh ini bisa merasai 'nikmatnya' lapar. Jika makan sehari cukup dua kali, mengapa mulut ini tak pernah bisa berhenti mengunyah? Bila kita pantas berbusana yang terjangkau, mengapa harus memaksa mengenakan yang mewah? Artinya kalau Islam meneladani kesederhanaan, mengapa justru kita terus berlebihan?
Dalam keteladanan beragama kita, Khalifah Umar bin Abdul Azis adalah cermin hebat, bagaimana memperlakukan sebuah kekayaan dan kekuasaan. Menjadi pemimpin pada umur 35, Umar bin Abdul Azis, pemimpin muda yang yang mampu melalui godaan duniawi. Ia mengubah cara hidup seorang khalifah sebelumnya yang royal pada duniawi. Umar mengikat diri untuk tidak silau pada harta, singgasana, pakaian, dan minyak wangi. Sikap ini menurun hingga keluarga intinya.
Hidup keluarga Umar, sederhana. Anaknya menutup mulut, karena hanya makan bawang. Perhiasan istrinya diserahkan ke Baitul Mal. Pakaiannya dijemur sembari dikenakan, karena baju satunya robek. Dia tidak perlu pengawal, tak butuh dihormati dengan berdiri, dan selalu berwasiat pada para gubernur sebelum pergi bertugas. Padahal ia manusia yang kaya raya dalam harta.
Tuntunan agar bisa merasakan lapar dan kesederhanaan, ternyata menjadi kata kunci. Dengan lapar atau kekurangan, kita dipaksa menghayati kondisi serba sulit. Dalam posisi begitu, apapun yang diperbuat punya konsekuensi panjang. Seorang penguasa misalnya, tak akan gegabah menggelontorkan Rp 6,7 triliun hanya untuk seorang pemilik Bank Century. Sementara, rakyatnya masih banyak yang kelaparan.
Lihatlah, kuli bangunan, dari pagi hingga sore, ia peras peluh hanya untuk beberapa lembar ribuan. Jika sakit saja, habislah sumber nafkahnya hari itu. Jasa rentenir diterima, maka tamat riwayatnya. Inilah dampak kemiskinan, lingkaran setan yang terus membelit.
Kemiskinan, jelas berimbas ke masyarakat. Jika miskin karena langkanya sumber daya alam, keamanan masih relatif baik. Namun, bila dipicu oleh pendapatan tak merata dan pemimpin yang tidak adil, keamanan masyarakat telah dipertaruhkan. Berita kriminal yang banyak dilansir media, menjadi bukti bahwa penyebabnya banyak berakar pada masalah perut.
Dalam keseharian, berdirinya banyak rumah megah kerap menggusur lahan satu-satunya milik orang lain. Kompleks rumah ini, tampak demikian kontras berdiri di lingkungan miskin. Tanpa disadari, arogansinya menjadi lebih kental karena tidak pernah mengindahkan tetangga. Jalan kampung malah ditutup, agar warga yang lain tak leluasa hilir mudik. Tiba-tiba saja, tembok telah mengelilingi kompleks, memutus jalur transportasi, komunikasi, dan hubungan sosial.
Dalam kondisi begini, warga miskin mudah dipicu untuk tak mau tahu tentang negara. Sebab, selama ini mereka mengurus nasibnya sendiri. Saat lahan hidup mereka digusur, mereka menghadang maut tanpa pembelaan, seakan tidak ada negara.
Kemuliaan dan kejayaan bangsa, seperti yang diingatkan Nabi Muhammad SAW, memang telah dirongrong kemiskinan. Lantas, masihkah kita menatap kemiskinan hanya sebagai dagangan politik semata? Selalu jadi primadona tatkala musim kampanye partai politik dan pemilihan presiden? Kemudian tercampak, tatkala kekuasaan itu telah digenggam.
Wallahu’alam.
Diambil dari tulisan :
* Sunaryo Adhiatmoko (Al Azhar Peduli Ummat)
Dalam riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW berpesan, "Kemiskinan, kebodohan, dan penyakit, merupakan musuh Islam. Ketiganya dapat menggoyah sendi kehidupan, menghancurkan ketentraman, menghalangi ukhuwah, serta meruntuhkan kemuliaan dan kejayaan bangsa."
Wasiat itu, maknanya dalam. Kemiskinan, tak hanya mengancam individual, tapi akan melibas kehidupan masyarakat. Baik memporak-porandakan segi akidah-iman, akhlak-moral, maupun merusak cara bersikap dan berpikir.
Islam sangat menentang kemiskinan. Namun Islam, menuntun umatnya agar bisa merasai makna miskin. Puasa Ramadan misalnya, mengingatkan agar tubuh ini bisa merasai 'nikmatnya' lapar. Jika makan sehari cukup dua kali, mengapa mulut ini tak pernah bisa berhenti mengunyah? Bila kita pantas berbusana yang terjangkau, mengapa harus memaksa mengenakan yang mewah? Artinya kalau Islam meneladani kesederhanaan, mengapa justru kita terus berlebihan?
Dalam keteladanan beragama kita, Khalifah Umar bin Abdul Azis adalah cermin hebat, bagaimana memperlakukan sebuah kekayaan dan kekuasaan. Menjadi pemimpin pada umur 35, Umar bin Abdul Azis, pemimpin muda yang yang mampu melalui godaan duniawi. Ia mengubah cara hidup seorang khalifah sebelumnya yang royal pada duniawi. Umar mengikat diri untuk tidak silau pada harta, singgasana, pakaian, dan minyak wangi. Sikap ini menurun hingga keluarga intinya.
Hidup keluarga Umar, sederhana. Anaknya menutup mulut, karena hanya makan bawang. Perhiasan istrinya diserahkan ke Baitul Mal. Pakaiannya dijemur sembari dikenakan, karena baju satunya robek. Dia tidak perlu pengawal, tak butuh dihormati dengan berdiri, dan selalu berwasiat pada para gubernur sebelum pergi bertugas. Padahal ia manusia yang kaya raya dalam harta.
Tuntunan agar bisa merasakan lapar dan kesederhanaan, ternyata menjadi kata kunci. Dengan lapar atau kekurangan, kita dipaksa menghayati kondisi serba sulit. Dalam posisi begitu, apapun yang diperbuat punya konsekuensi panjang. Seorang penguasa misalnya, tak akan gegabah menggelontorkan Rp 6,7 triliun hanya untuk seorang pemilik Bank Century. Sementara, rakyatnya masih banyak yang kelaparan.
Lihatlah, kuli bangunan, dari pagi hingga sore, ia peras peluh hanya untuk beberapa lembar ribuan. Jika sakit saja, habislah sumber nafkahnya hari itu. Jasa rentenir diterima, maka tamat riwayatnya. Inilah dampak kemiskinan, lingkaran setan yang terus membelit.
Kemiskinan, jelas berimbas ke masyarakat. Jika miskin karena langkanya sumber daya alam, keamanan masih relatif baik. Namun, bila dipicu oleh pendapatan tak merata dan pemimpin yang tidak adil, keamanan masyarakat telah dipertaruhkan. Berita kriminal yang banyak dilansir media, menjadi bukti bahwa penyebabnya banyak berakar pada masalah perut.
Dalam keseharian, berdirinya banyak rumah megah kerap menggusur lahan satu-satunya milik orang lain. Kompleks rumah ini, tampak demikian kontras berdiri di lingkungan miskin. Tanpa disadari, arogansinya menjadi lebih kental karena tidak pernah mengindahkan tetangga. Jalan kampung malah ditutup, agar warga yang lain tak leluasa hilir mudik. Tiba-tiba saja, tembok telah mengelilingi kompleks, memutus jalur transportasi, komunikasi, dan hubungan sosial.
Dalam kondisi begini, warga miskin mudah dipicu untuk tak mau tahu tentang negara. Sebab, selama ini mereka mengurus nasibnya sendiri. Saat lahan hidup mereka digusur, mereka menghadang maut tanpa pembelaan, seakan tidak ada negara.
Kemuliaan dan kejayaan bangsa, seperti yang diingatkan Nabi Muhammad SAW, memang telah dirongrong kemiskinan. Lantas, masihkah kita menatap kemiskinan hanya sebagai dagangan politik semata? Selalu jadi primadona tatkala musim kampanye partai politik dan pemilihan presiden? Kemudian tercampak, tatkala kekuasaan itu telah digenggam.
Wallahu’alam.
Diambil dari tulisan :
* Sunaryo Adhiatmoko (Al Azhar Peduli Ummat)
Kamis, 10 September 2009
My Doa
Ya Allah, Engkaulah Dzat yang Maha Adil,
tapi jangan Engkau berikan sifat Adilmu padaku...
karena jika Engkau menggunakan sifat AdilMu
maka sebanyak dan selama apapun aku beribadah kepadaMu
takkan bisa sebanding dengan nikmat yang telah Engkau anugerahkan.....
ku inginkan sifat Rahman dan RahimMu
sehingga termasuk orang-orang yang Engkau Ridhoi.........
Langganan:
Postingan (Atom)